Feeds:
Posts
Comments

how’s my life today

“sungguh harapan itu akan selalu ada ketika berusaha”

sebuah kekuatan yang tak mampu aku hindari, sebuah kekuatan yang hadir tanpa dikira. hanya itu, harapan yang selalu memotivasi untuk selalu memberikan yang terbaiksemua orang menyayangiku, mencintaiku, dan mengharapkan ku menjadi apa yang aku inginkan. selalu mendoakanku, jadi tak patut bagiku untuk mengecewakan mereka, semua orang yang sayang . bukan hanya idealisme semata ketika aku katakan hal ini, aku menyadari bahwa aku bukan siapa-siapa. namun aku tahu ketika mereka mengharapkan ku menjadi orang yang berarti. berawal dari harapan yang mereka lantuntan pada diriku, bertolak dari situlah kumulai mengerti mengapa sekarang ku ada dan berada disini

bukan hanya keinginan yang hadir karena kau telah banyak memotivasi orang lain, yang kadang tanpa sadar malah  justru aku yang rapuh. aku yang selalu pandai menutup apa yang terjadi padaku, aku yang selau mengatakan”aku baik-baik saja”. ehmmmmmmmmmm sekarang bisakah ku katakan diriku seorang munafik??? bila apa yang ku kata tak sesuai apa yang dirasa, membaca karya agus mustofa, yang mengupas bagaimana sesungguhnya munafik. tanpa disinggungpun akau telah emrasa. dan aku tak ingin selamanya menjadi penyenang bagi orang lain, tanpa care pada diriku sendiri. how about yor day??? yach, kata itu, kenapa tak ku tanya pada diriku sendiri, hei rizma…..how’s your life today???

riezma be the best and give the best, care with yourself!!!!

SESCO’S FRIENDS

ikip-uns-iain1

porjos-friends1

rizma

Hakekat Sebuah Cinta

Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo’akannya
walaupun dia tidak berada disisi kita.Tuhan memberikan kita dua kaki
untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar
dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan
sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi
hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta …

Jangan
sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba..
Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan
sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak
dapat melupakannya. Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai
harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih
percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih
ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada
mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan
kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia
meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata
cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang
tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya. Mungkin Tuhan
menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum
bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana
berterimakasih atas karunia tersebut.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh
menjadi bening, sakit menjadi sembuh,  penjara menjadi telaga, derita
menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat. Sungguh menyakitkan
mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan
adalah  mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian
untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis,
ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu
mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri
mawar itu menusuk jari. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika
kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk
menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus
membiarkannya pergi.

Kadangkala
kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga
kamu kehilangannya.  Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena
perginya tanpa berkata lagi. Cintailah seseorang itu atas dasar siapa
dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya.  Kisah silam tidak perlu
diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat
menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila,
orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu
disambut oleh para pecinta PALSU. Kemungkinan apa yang kamu sayangi
atau cintai tersimpan keburukan didalamnya dan kemungkinan  apa yang
kamu benci tersimpan kebaikan didalamnya.

Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya
alam, cinta kepada diri artinya bijaksana,  cinta kepada mati artinya
hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa. Lemparkan seorang yang
bahagia dalam bercinta kedalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan.
Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti,
pasti ia akan mati kelaparan.

Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam,
tetapi tidak mempunyai  perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah
seperti gong yang bergaung atau sekedar canang yang gemericing. Cinta
adalah keabadian .. dan kenangan adalah hal terindah yang pernah
dimiliki. Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun pandai
menilai cinta karena cinta bukanlah suatu  objek yang bisa dilihat oleh
kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan
perasaan.

Cinta
mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan
meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. 
Inilah dahsyatnya cinta. Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang
kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi 
gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan
diri sendiri yang kamu temukan didalam dirinya.

Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. Namun
apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan
biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda Tanya dihatinya. Cinta
bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi
cinta adalah  anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat
menilai kesuciannya. Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang
mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang
sukar diperoleh. Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan,
lebih baik cinta itu tak pernah hadir.

MERETAS IKHLAS III

Dua tahun tlah berlalu begitu cepat, selama itu pula aku saling “ta’aruf”, katamu. Mengenal satu sama lain dan aku semakin mantap dengan keputusan yang kuambil. Bahwa kau adalah calon imam bagiku dan bagi anak-anakku kelak. Kau memintaku menjadi wanita yang lembut seperti wanita solo, aku tak tahu kenapa kau meminta ku seperti itu, tapi aku senang, dan ku berusaha untuk itu. Sungguh aku ikhlas melakukannnya. Akar kepercayaanku semakin tumbuh dalam alam fikir dan jiwaku. Selama dua tahun kau t’lah membuktikan bahwa betapa beruntungnya aku yang kelak akan kau jadikan pendamping hidupmu. Kau melantari banyak perubahan padaku, menjadi semakin baik.
Namun, tiba-tiba semuanya hancur. Kau hancurkan rumah yang baru saja ku dirikan. Kau menghancurkannya dengan cintamu sendiri. kembali ku meneteskan airmata. Bahkan lebih deras ketika kembali mengingat luka yang kau siram air garam, pedih menyayat.
@@@
“mas Lukman, abah berniat menjodohkanku, dengan putra salah satu kyai kenalan beliau. Namun, abah bukanlah orang tua yang tak menghiraukan perasaan putrinya. Aku t’lah mengatakan bahwa ku tl’ah menjalin ikatan dengan seorang lelaki. Calon yang Hasna pilih sendiri, dan abah memberiku kesempatan”.
Bibirku mantap melantunkannya, aku tahu bahwa kau akan memperjuangkan untuk mendapatkan cinta seperti yang kita impikan. Allah mendengar dan mengabulkan do’a kita mas. Tapi engkau terdiam, terpekur menatap tanah yang menghitam, tak ada senyum di sudut bibirmu seperti yang ku harapkan.
” Mas Lukman, Abah minta minggu depan kau datang kerumah, dan menyatakan kesiapan untuk menikahiku. Bukankah itu yang sama-sama kita inginkan?nanti setelah itu tinggal mas bicara dengan orang tua mas di Riau”.
Semangatku menggebu. Ah…mas Lukman, do’a kita di kabulkan. Allah amat sayang dengan kita. Jeritku bahagia dalam hati.
” Dik Hasna, sebelumnya aku minta maaf, bukannya aku tidak menginginkan dik Hasna menjadi istriku, aku sangat menginginkannya. Aku sangat mencintaimu, tapi sebelumnya ada sesuatu yang harus aku katakan”. Katamu datar. Aku tak menyahut, hanya anggukan pelan sebagai simbol jawaban.
” Dik Hasna, ibu menginginkan aku kembali dengan memboyong seorang istri, dan ku tahu kau tak keberatan untuk itu, namun ada hal lain yang selama ini aku tak mampu untuk mengatakannya, dan kupilih untuk merahasiakannya, karena aku sangat mencintaimu. Selama ini aku t’lah banyak bicara pada ibu, namun………….”
“Namun apa mas? Mas masih ragu? bukankah mas yang selalu mengajarkan Hasna untuk yakin bahwa Allah pasti menagbulkan do’a kita? mas Lukman yang mengajarkan untuk menjaga cinta kita hingga indah pada waktunya, lantas apa lagi?” Kupotong ucapannya, Kembali wajahnya menunduk dan terpekur.
” Namun, ibu tak meridhoi bila istriku selain wanita solo, sedang kau…..Dik hasna, jangan salah paham, aku sudah mencoba menjelaskan bahwa kau pun melebihi wanita solo, namun ibu tak mengerti. Dik hasna, pulanglah…tapi tidak denganku. Temui lelaki yang dijodohkan Abahmu”
Halilintar itu menyambarku, mematikan sel-sel otakku dan juga mematikan rasaku. Hingga aku tak mampu berlari untuk menumpahkan kepedihanku. Hanya menjadi patung yang menghitam tersambar petir. Buliran air bening itu meleleh perlahan dan semakin deras, tergugu oleh tangisku. lelaki yang ku banggakan tega menyakitiku, menyembunyikan syarat yang di inginkan ibunya. Menghancurkan hidup wanita yang katanya dicintai karena Allah.
Mas Lukman…aku tak lagi tahu bagaimana aku melukiskan kepedihan hati karena kanvas itu tak cukup mampu. Bagaimana aku bisa menuliskan luka hati yang hacur karena cintamu telah mematikan penaku. Dan kembali ku tergugu, mematung, menekuri bumi yang semakin basah.
@@@
Ku masih berdiri di depan jendela kamar, menghirup wangi desa di kaki gunung Merapi. Memandang embun yang masih melekat di ujung mawar yang hendak merekah. Mukena putih mengkilap masih membalut tubuhku, baru saja ke selesaikan aduanku. Kupandangi surat di atas meja yang semakin lusuh, tak lagi terlihat warnanya. Hari ini, hari yang akan menjadi sejarah dalam buku hidupku. Saat seharusnya kurasakan kebahagiaan yang tiada tara. Waktu dimana akan ku genapkan separuh agamaku dengan lelaki pilihan abah yang tak ku kenal.
Tak ingin ada lagi air mata yang tumpah, karena t’lah kutumpahkan dalam sajadah keMahaan-Nya malam tadi. Tak pantas aku kemabli mengingat lelaki itu. Lelaki yang berkata mencintaiku karena Allah dan kemudian menghancurkannya atas nama bakti pada Ibu.
Mas Lukman, sakit itu masih sungguh terasa hingga pagi ini aku kembali membaca suratmu. lelaki yang kubanggakan di depan abah ternyata t’lah menghancurkan sendiri relief kebanggan di otakku. Lelaki yang justru menyerahkanku pada lelaki yang tak pernah ku kenal. Cinta ini t’lah lebur dan beterbangan seperti abu yang terbawa angin. ” Nil itu t’lah membunuh mesirku sendiri”*
“Hasna, pagi ini kau akan menikah nak, apakah kau sudah ridho?” tiba-tiba abah mengagetkan lamunanku. Kuseka airmata yang masih tersiasa. Aku masih terdiam.
” Hasna, jika kau tidak ridho, tidak ikhlas, abah dan umi masih bisa membatalkannya, dan menyampaikannya pada dak Fahmi” Akupun masih diam. terpaku. Kudengar mereka berlalu.
” Abah, jangan!” Kubalikkan tubuhku, kutatap mata teduh lelaki yang t’lah mendidikku, lelaki yang tak pernah membuatku merasa sakit, dan wajah teduh wanita yang telah melahirkanku ke dunia.
” Abah, Hasna ikhlas” hanya itu yang mampu ku ucap. Aku sadar dengan ucapanku. Aku yakin bahwa abah dan umi akan memberikan yang terbaik bagi putrinya. Mereka lebih tau sifatku melebihi aku sendiri. Kulihat senyum menggantung di bibir mereka. Senyum kebahagiaan yang tulus mereka berikan untuk putri tercintanya.
Kupandangi mentari yang kain menjulang, menghapus embun di ujung mawar yang makin merkah. Semoga ikhlasku kan menghapus embun dihatiku.
Purworejo, 06 Syawal 1429 H

MERETAS IKHLAS II

“Dik, aku telah menyatakannya, semua terserah padamu, aku tak berhak untuk memaksamu, karena perasaan takkan pernah bisa dipaksakan”
Aku masih terdiam,seakan-akan apa yang kau katakan hanyalah sebuah nyanyian sebelum tidur bagi berusia setahun. Fikiranku melayang, tak tahu dan tak mengerti apa yang harus aku lakukan.
“Akan ku pikirkan, seminggu lagi aku akan menjawabnya, dan semoga itu yang terbaik, terimakasih, assalamu’alaikum”.
Dengan suara bergetar kucoba lantunkan sebuah penutup,. Tak ingin kuberlama-lama dalam suasana yang membuatku tak tenang. Selaksa seorang terdakwa, aku hanya mampu berdiam diri. Kuputuskan untuk pergi meninggalakn dia sendiri bermain dengan alam fikirannya di senja yang makin temaram.
@@@
Mas Lukman, sosok lelaki berumur 24 tahun, perantauan dari pulau seberang sejak lulus SD, sambil nyantri di sebuah pondok pesantren. Lulusan universitas islam terkemuka,dan kini sebagai salah satu dosen di almamaternya. Tak begitu jelas kuingat dimana pertama kali ku bertemu dengannya, sehingga mampu membuat dia menyatakan rasa cintanya. Sedang aku, Hasna Farida,wanita berusia 20 tahun yang biasa-biasa saja, tak makan bangku kuliah dan hanya sempat nyantri pondok yang mengantarkanku sebagai seorang kativis LSM yayasan pondok. Lantas bagaimana mungkin mas Lukman denagn seperangkat kesempurnaanya mencintai dan menawarkan sebuah komitmen padaku?. Aku tak lagi ingin hubungan yang tak jelas, yang hanya kesana kemari grubyag-grubyug tak tahu juntrungannya. Sedang dia juga meng-aminkannya, apakah itu artinya dia akan membawa hubungan ini kearah yang memang di izinkan Allah??? tanda tanya terus bergelayut di ruang hatiku.
Mataku masih belum mampu terpejam, menatap langit-langit kamar yang di hiasi dengan klamat. Sepasang cicak berhadap-hadapan,dan mungkin saja sedang bermesraan. andai aku mempunyai sedikit kekuatan selayaknya nabi Sulaiman tentu aku kan tahu pa yang sedang mereka rasakan. Namun itu hanya sebatas andai.
Malam telah larut, namun mataku tak jua terlelap. Rasa kantuk tak jua menghampiri, meski lelah telah membelenggu. Mas Lukman, serasa langit dan bumi antara aku dan dirimu. kau lelaki sempurna, calon imam yang diidamkan setiap wanita. Tapi aku?apa yang bisa dibanggakan dari seorang Hasna?selain wanita jawa yang nyantri di pesantren selepas SD?
” Ketegaranmu dik Hasna yang membuatku jatuh cinta padamu”
” Ketegaran? tegar seperti apa, aku tak mengerti”
” Kau begitu tegar dengan segalanya, penyakitmu, kondisi keluargamu, Aku tahu yang terjadi padamu, penyakit yang mungkin saja bisa merenggut nyawamu lebih cepat, tapi kamu tidak mengeluh, bahkan seakan-akan malah semakin bersahabat dengan syaraf otakmu yang sejak kecil kau rasakan. Aku tahu dik, walau kau selalu berusaha keras menyembunyikan dari semua orang yang akhirnya mereka tahu juga.”
Mataku terbelalak, tak percaya, kau tahu dengan begitu detail apa yang terjadi padaku.
“Jadi mas mencintaiku karena mas kasihan dengan apa yang kurasakan? pergilah mas, tinggalkan aku sendiri”.
Ingin keberlari, menjauh kemudian menghilang. Aku bukan wanita yang meminta belas kasihan untuk dicintai, tidak juga olehmu mas Lukman. Namun, ternyata kutak berdaya, hanya terpekur di kursi usang di sebuah ruang kantor.
Ah…….ingatanku tak kan mungkin lupa pada semua itu. Engkau yang meminta dengan sangat agar ku mendengarkan penjelasanmu. Kemudian aku menurutinya. Kau akui bahwa berawal dari sebuah kekaguman dan akhirnya mencintaiku. Jam beker mungil di atas meja berdering,kulirik, berlalu dari angka dua. Aku beranjak. Inginku benamkan wajah dan jiwaku pada hamparan kasihNya. Gusti, ingin Kau memelukku dan menuntunku jalan manakah yang harus aku tempuh. Menerima dai atau membiarkan saja semua ini berlalu dengan mengacuhkan getaran di hatiku???
@@@
“Dik Hasna, hari ini adalah hari ke tujuh seperti yang kau janjikan, kau tidak lupa kan?”. Kembali kurasa tatapan matanya yang teduh, hangat dan bersahaja, walau hanya rasaku yang berbicara tanpa mampu melihat nyata apa kau menatapku atau tidak.mas Lukman, aku tak lupa, hanya saja aku belum mapu bertutur.
” Bagaimana hasil istikharahmu”. kau bertanya, aku masih terdiam, namun sebuah semangat tiba-tiba hadir, aku harus mengatakannya, harus.
” Mas Lukman, telah kuserahkan sepenuhnya pada Diqa, dan semoga isyarat yang kuperoleh benar-benar isyarat dariNya”. Aku terdiam, menghirup udara yang tiba-tiba terasa sebagai karbon dioksid, menyesakkan.
“Aku menerimamu, bukan sebagai seorang lelaki yang hanya mencintaiku, tapi aku ingin menerimamu sebagai lelaki yang menjadi imam bagiku dan bagi anak-anakku”. Denagn bergetar kemelafalkannya. Ada senyum yang mengembang di sudut bibirmu.
@@@

MERETAS IKHLAS

Purworejo, 21 Agustus 2005

Assalamu’alaikum

Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa memberikan rahmatNya untuk hambanya yang bersyukur, semoga kita termasuk di dalamnya , Insyaallah.

Dik Hasna, sebenarnya terlalu sulit untuk mengatakan ini semua, bibir terasa kelu dan rasa-rasanya tak mampu untuk menyampaikannya. Namun, hatiku yang justru akan semakin terbelenggu jika hanya bertahan dengan diamku.

Dik Hasna, telah lama aku memendanm perasaan ini, sebuah perasaan yang mulanya hanya berawal dari sebuah kekaguman. Kagum, takjub dengan mahluk Tuhan sepertimu. kagum dengan kebaikan, ketegaran, dan juga akhlakmu. Semula aku tak yakin dengan apa yang kurasakan, semula aku ingin menolak dan mengacuhkannya. Namun, di sisi hatiku yang lain kemudian yakin bahwa ada yang t’lah mengatur pertemuan dan perasaan ini. Awalnya aku ragu, takut dan juga bimbang. Ragu, apakah yang kurasakan benar adanya ataukah hanya keinginan untuk mempolitisir sebuah cinta. takut, jika apa yang tumbuh subur di dalam hatiku hanya nafsu yang kan merusak imanku, dan bimbang memikirkan apa yang harus aku lakukan. Namun, istikhorohku membuahkan hasil, sebuah keyakinan yang ku husnudzoni dari Allah membuatku memantapkan hati bahwa apa yang kurasakan bukanlah nafsu dan juga bukanlah muslihat syetan. Aku meyakininya, bahwa Allah menciptakan dan menganugrahkan rasa itu padaku.

Dik Hasna, aku menyayangimu, aku mencintaimu karena Allah. Semoga jika engkau mempunyai rasa yang sama denganku, Allah akan memberikan kita jalan untuk mencecap cinta sesuai hukum yang di tetapkan Allah untuk kita.

Dik Hasna, aku menunggu balasmu.

Dariku

Lukman Chanif

@@@

Air mataku meleleh, satu persatu hingga kemudian semakin deras, menuruni lereng pipi , berjatuhan dan merembes menembus bumi. Untuk kemudian tersimpan rapi di dalamnya sebagai mata air yang kan keluar di suatu waktu. Dua tahun lalu engkau memberikan surat itu untukku. Dua tahun lalu, hatiku tergugah oleh sebuah pengakuan dari seorang lelaki yang semula tak begitu ku kenal. Dua tahun lalu, pertahanan kokoh yang selama hampir lima tahun berdiri tegak tiba-tiba hancur. Semua karena kejujuranmu. Kejujuran mahluk Tuhan yang menggempur dan dan merusak prinsipku. Prinsip bahwa aku tak akan memulai hubungan pacaran, hanya ada ta’aruf, khithbah, dan menikah. Namun hatiku goyah oleh pengakuanmu. “Aku mencintaimu karena Allah”, betapa sempurnanya.

Dulu hatikuseperti mentari yang bersinar seperti pagi ini. Menyebar ke segala penjuru, memberikan kehidupan bagi seluruh mahluk termasuk aku. Cintamu membelai lembut bagai angin yang menyapa kulitku, sejuk. Semua sempurna, seperti Allah menciptakan pagi yang indah ini.

@@@

“Aku tahu, bahwa dik Hasna bukanlah wanita seperti yang lain, akupun tahu bahwa tentunya dik Hasna tak ingin menjalin hubungan yang bertentangan denagn nuranimu. Dan begitupun kau, bukan hubungan yag seperti kita lihat yang ku inginkan”

Hatiku lengang, hening, tetapi juga bergemuruh dahsyat menghantam karang hati. Aku termangu dan menunduk bahkan tak mampu berkata sepatahpun. Angin lembut mengelus jemariku yang bergetar denagn sebuah pengakuan, di sebuah senja yang hampir tenggelam. Taman kota sepi, hanya ada aku, dia, dan temannya, sebagai saksi pengakuan cinta, katamu.

GADIS BERMATA BIRU

“Aku tak mampu lagi saat harus kehilangan mu, namun aku juga tak mampu bersamamu saat ini, hanya saat ini, hingga saat yang selalu kuharapakan datang dengan segala kesempurnaanmu”

Malioboro, 15 september 2007
Faris melangkahkan kakinya, seorang diri di tengah malam yang temaram. Gerimis sedikit mengguyur kawasan ini. Kawasan Malioboro yang biasanya penuh sesak oleh lalu lalang manusia.Sepanjang jalan matanya masih saja memandang jalanan yang sedikit berdebu. Warung nasi gudeg Bu Yem masih ramai, jam tangan menunjuk angkan 09. 56, masih jauh dari dini hari. Kerlip-kerlip lampu masih turut menghiasi , walau bintang di angkasa sudah tampak bersembunyi., tak terlihat, tertutup kabut yang menebal. Matanya yang sayu tak menangkap sesuatu yang dicarinya. Gadis bermata biru yang biasanya selalu tampak di gang Gramedia sama sekali tak terlihat. Gerimis yang dari sore telah menyapa mungkin membuatnya enggan untuk datang ketempat ini. Walau dirasa ini bukanlah sifatnya yang tak mudah menyerah. Belum beranjak dari dini hari, masih terlalu sore mungkin. Siapa tahu gadis bermata biru itu akan muncul setelah gerimis ini tak lagi menyapa. Ku yakin gadis itu akan kembali datang dan menyuguhkan senyumnya yang khas wanita Jogja. Keindahan yang tak terperi, yang tak mampu dinilai dari mata uang poundsterling sekalipun. Ah… dimana engkau gadis bermata biru? Aku sungguh menantimu disini.

Malioboro, menginjak 12.53
Aku lelah, namun tubuh semampaimu tak jua terlihat. Kembali kuselidik singgasanamu, sebuah angkringan di gang Gramedia. Kau tak terlihat, benar malam ini kau tak datang, kau membiarkan ku berkabung dalam sunyi yang tak mampu ku terjemahkan. Mengapa kau begitu tega gadis ayu? Jiwaku gersang, siraman gerimis telah berhenti. Jalanan mulai lengang, diam, dan mendiamkan aku sendiri. Keyakinkan sekali lagi bahwa kau benar-benar tak ada. Sungguh malam ini kau benar-benar tak datang walau hanya sekedar untuk menyapaku.

Jl. Kraton 24 September 07
Seorang gadis dengan balutan kain tipis di kepala, yang menutupi utuh kepalanya, celana jeans gombrang dengan blus sepinggang. Berlari-lari kecil berlomba-lomba dengan gerimis yang semakin menjadi hujan. September, jogja sering hujan, apalagi dijalanan ini. Beruntung sampah tak menggunung seperti di depan pasar Bantul, hingga celana jeans bisa aman dipakai dua hari. Tadi malam Faris menungguku., hingga larut. Matanya tak lagi liar malah sedikit sayu. Rambutnya agak sedikit rapi , masih dengan sweeter yang sama, warna abu-abu yang sama dengan hatinya yang tak pernah bias dimaknai. Duduk di tempat yang sama. Faris, maafkan aku, aku melihatmu, memandangmu dengan lekat, dan matakupun mengikuti langkah kepergianmu. Aku masih enggan untuk bertemu, walau hanya sekedar mentapmu. Bukan murni karena bulan Agustus yang lalu, sungguh bukan karena hal itu. Namun karena sesuatu yang selalu bergolak dihati yang tak mampu aku terjemahkan. Saat matamu begitu lekat memandangku. Aku tak mampu. Ah…. Faris enkau tak terlalu sangat sempurna untukku, dan begitupun aku. Sulit Ris, sangat sulit, dan aku tak tahu bagaimana sulit itu harus kumudahkan. Ahhh….bisa-bisanya dengan gerimis yang masih memperlihatkan sedikit rambutku, aku masih bisa memikirkamu. Faris, engkau terlalu larut menungguku, biarlah dengan fikirmu. Andai kau tolehkan sedikit saja kepalamu yang lemas itu, disamping pohon beringin itu, maka engkau akan bisa dengan jelas melihatku.

12 Agustus 04
Selamat tinggal saying realkanku pergi
Meninggalkan dirimu ayng kusayangi
Bukan niatku saying membuatmu terluka
Mnamun terpaksa….

Suara merdu, dengan garis ketulusan dan keindahan yang tak terjemahkan. Menyapa lembut dan halus di telinga yang kemudian merasuk dalam sanubariku. Lagu yang akhirnay aku tahu dari negeri Jiran yang sama sekali tak pernah kudenangar. Telingaku tak terbiasa untuk itu. Suaramu menarik mata yang memandang. Seoranag gadis semampai, celana jeans gombrang, bukan celana jeans yang ketat yag kini sedang trend. Kaos lengan panjang hijau tua yang membelit pinggang dengan sebuah kain tipis yang membalut utuh kepalamu. Tak ada yang istimewa,. Namun tak mengerti kenapa ku tertarik, ya tertarik, sekali lagi tertarik. Dan rasanya aku pernah melihat wajahmu, wajah yang tak lagi asing bagiku. Ah…aku terlalu mengada-ada, mana mungkin aku punya teman cewek seorang pengamen di Malioboro. Gadis bermata biru, ya sempat kutangkap matanya saat meyodorkan bungkus permen tepat dihadapanku. Matanya berwarna biru, dan rambutnya hitam panjang. Jangan Tanya dari mana kutahu, karena instingku tak pernah salah, gadis itu berambut hitam legam.

21 Agustus 04
Kali ini aku takkan membiarkan mu berlalu, setelah selembar lima ribuan kutaruh di bungkus permen itu. Kuingin bicara lebih, hingga aku kan rela meletakkan uang yang lebih besar dalam bungkus permen itu. Aku ingin berbicara dengan matamu yang biru, dan dengan rambutmu yang legam. Sepertinya ku mengenalmu. Engkau tersenyum mendengarnya, senyum yang lebih manis dari kurma nabi. Bagaimana mungkin, begitu katamu sambil berlalu. Kutarik lenganmu, dan kuulurkan tanganku, Faris. Malah kini kau telungkupkan tanganmu di depan dada, Shinta Puspitaningrum. Akh…aku tersenyum kecewa tak menyeentuh tanganmu. Tapi kutersenyum.

31 Agustus 04
Shinta ijinkan aku untuk berubah, dan tolonglah aku. Engaku bisa mengembalikan aku seperti Faris yang kau kagumi di SMP dulu. Kini ku ingat kau pemuja rahasia waktu kumasih lugu dan membanggakan. Kau sekarang menjadi mahasiswi yang anggun. Dengan profesimu sebagai pengamen. Kumulai mengalirkan episode demi epidode kehidupanku. Engkau terperanjat saat kau temui tubuhku yang menggigil tak berdaya di tengah kisahku. Gigiku bertempur dengan gigi yang lain, kau menatapku tajam. Butiran bening itu sungguh mengalir, saat mataku sedikit terbuka. Sesaat kemudian aku tak tahu lagi apa yang terjadi padamu dan pada diriku.

Dini hari, RS Sardjito
Kudenagr kau bercakap dengan seseorang, berpakaian putih, kau tampak memohon sesuatu. Aku tak lagi ada di gang Gramedia tempat semalam. Kau berjalan gontai kearahku. Dan dengan sinis yang kau paksakan kau menghujam tanya padaku, memaksaku melanjutkan cerita bersambung tadi malam. Dan kaupun tak terima, kau juga membeberkan kertas wayang hidupmu hingga kamu sekarang menjadi seorang mahasiswi dengan sambilan pengamen, untuk kamu faris, untuk faris yang dulu selalu menatap senja di Parangtritis, faris yang kubanggakan. Hatiku ngilu, tulangku remuk.

01 September 04
Faris, tak mungkin lagi kuijinkan perasaan itu tumbuh kembali dan semakin subur di hatiku. Kau sungguh mengecewakan, apa karena orang tuamu yang tak lagi memperhatikanmu dan lebih memilih bercerai untuk mempertahan kan ego sehingga kamu benar-benar berubah 180 derajat. Bukan sebagai Faris yang kukagumi. Menjawab keinginanmu untuk meminangku adalah menyeberangi lautan api, dan aku tak mungkin melakukan hal itu. Kupilih kalimat seindah mungkin untuk dirangkai, agar kau kembali sadar. Ketika kau inginkan aka kembali dengan rasa itu, maka datang dan rengkuhlah aku dalam pelukan Faris yang dulu. Sebelum itu takkan ada gadis bermata biru yang kau impikan, yang kan datang menemuimu dalam malam di gang Gramedia.

18 September 07
Shinta aku telah kembali, tiga tahun membuatku menjadi Faris yang kau banggakan walau tak sesempurna dulu, karena tubuhku tak mungkin kembali menjadi sempurna. Shinta, aku tahu dan sadar engkau selalu ada. Namun kapan engkau kan datang menemui aku, dan menyuguhkan matamu yang biru itu untukku? Shinta dengarlahaku. Engkau kini tak lagi diam duduk di angkringan dengan gitar bututmu untuk menyayikan lagu melayu kesukaanmu.

23 September 07
Faris, engkau masih berada di tempat yang sama. Kini tak lagu kulihat Faris yang sayu. Namun matamu masih tak mampu sembunyikan kerapuhanmu, engkau tak lagi sempurna. Ketika kau menjerit, memanggil namaku hingga seluruh manusia di gang itu menuduhmu gila, aku masih tak mampu keluar dari balik beringin tua itu. Aku masih tak mampu menemuimu. Waktu tiga tahun belumlah cukup untuk membuatmu menjadi sempurna dimataku hingga engkau benar-benar kembali menjadi Faris yang dulu. Faris yang selalu kembali denagn senyumnya, Faris yang tak lagi mengenal dunia hitamnya, Faris yang menjadi segalanya dalam hidupku. Faris kuingin yang lebih sempurna dari saat ini.
Desember, Bantul 07

The End

Tangannya dengan cekatan membuka bungkusan itu. Hatiku memang tak begitu berdebar. Ini bukan kali pertama  Ipul memberikan sesuatu padaku. Di ulang tahunku ynag sebelumnya, saat cinta remaja itu menggelayut diantara hatiku dan dia, kerap dia memberikan kejutan bagiku. Namun justru itulah, seakan sekarang aku merasa banyak berhutang padanya, walau dia tak meminta imbalan dariku.

“Mat, apa?” aku penasaran, karena ternyata bungkus kado itu tak hanya satu, berlapis lapis dan semuanya berwarna biru kesukaanku.

“Rhiez, lihat…..” Kudongakkan kepalaku, jantungku nyaris copot oleh kekagetanku. Sungguh, aku tak kan mengira, di usiaku yang baru 17 tahun ada seorang laki2 yang memberikan hadiah ulang tahun berupa Al Qur’an. Ah…….Ipul, kau membuatku bimbang lagi dengan segala kebaikanmu. Selalu saja kau pandai mempermainkan hatiku yang sudah mulai tak lagi merasakan sakitnya cintamu . Bibirku kelu, tak mampu untuk hanya sekedar mengucap sepatah kata untuk mengusik keheningan pagi di sebuah ruang kelas. Aku takkan pernah lupa akan hal itu.

” Mat, aku ga mungkin menerimanya, ga mungkin Mat” Aku mencoba menjauh, mengalihkan pandangan mataku ke jalanan yang mulai ramai.

” Kenapa Rhiez??? kenapa tidak,  mungkin Ipul memang benar2 mencintai kamu, dan ini ungkapan dia…..”

“Tidak Mat, aku tahu dia masih mencintaiku, tapi rasa sakit yang dia toreh ketika dia bersama Fitri tak mungkin kulupakan Mat, sakiiiitttt”kupotong ucapan Rahmat yang takkan pernah sempurna sampai saat ini.

“Rhiez, bukankah dulu kamu yang minta Ipul untuk menerima Fitri, bukankah kamu sudah siap denagn konsekuensi itu, bukankah…..”

“Sudahlah, aku memang salah, tapi apa karena Fitri juga tak lagi disini hingga dia memintaku untuk kembali, Mat? kamu sahabat aku, tolong jangan pojokkan aku seperti ini, tolong”

“Ya udah terserah kamu mau  diterima apa ga, yang jelas q dah menyampaikan amanat darinya untukmu”

###

Hening, sepi dan kaku. Itulah gambaran saat aku menemui dia sepulang sekolah di alun2. Kuputuskan untuk mengembalikan pemberiannya itu, karena aku tak mau memperoleh beban yang kan membayangi ku seumur hidup. Tak ada rangkaian kata yang keluar, semuanya kelu dan seakan parkiran kata di otakku mulai membeku, tak mampu merembes di bibir. Sesaat lamanya semuanya hanya diam, membiarkan angin yang bertiup lembut menyentuh kulit.

“Pul, maaf aku cuma pengen balikin ini” Kucoba menguatkan suara, dan mulai membendung sumber air itu agar tak menjadi bah yang tumpah.

“Kenapa? ini hari ulang tahunmu, dan aku ihklas memberikannya padamu, tak ada maksud apa2 dalam diriku, karena aku hanya ingin memberikan sesuatu yang berarti untukmu, itu saja” tatapan mata itu, ketajaman yang sampai sekarang tak mampu ku pandangi, aku menunduk dan kembali terdiam. hening, sepi, dan kaku.

“Pul, aku sangat berterimakasih, tapi aku ga bisa, ini bukan sembarang barang yang bisa kau berikan pada siapa saja, dan aku….aku sudah tak bisa kembali padamu, biarlah kita bersahabat tanpa ada tendensi apa2, biarkan semua berjalan seperti saat dulu pertama kita saling mengenal, tapi bukan untuk saling mencinta, namun untuk saling mengasihi sebagai seorang sahabat. kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih segalanya dibanding aku, dan semoga begitupun aku” tak tahu kenapa aku mampu merangkai kata yang begitu banyak, hanya saja yang terpikir dalam otakku , aku harus bicara dengannya, dan semuanya harus clear. Bahwa aku dan dia hanya sebatas sahabat.

“Baiklah, tapi tolong terima ini sebagai tanda persahabatan kita, dan asal kamu tahu aku akan terus mencintai kamu, karena kamu wanita ternbaik yang pernah ku kenal, walau kamu tomboy, tapi itu dulu, dan kamu mempunya background agama yang tak banyak dimiliki wanita lain, aku kagum sama kamu “

“Tanda persahabatan” kataku mengulagi lagi, dan kucoba memberikan senyum terindah ynag pernah kumiliki untuknya, untuk seseorang yang pernah mengisi relung hatiku, seseorang yang mampu membuatku lebih baik, seorang lelaki yang sangat sabar.

###

08 agustus 2008

Ulang tahunku yang ke-20, tak ada sesuatu yang istimewa, seperti biasa ibu menyiapkan dua tumpeng sekaligus , karena mbakku juga berulang tahun di tanggal 15, sekalian kata ibu. Dan semuanya biasa saja. kisah cinta yang lama tlah kukubur dalam2, dan aku tak lagi berniat untuk membukanya. di umurku yang sudah berkepala dua, sebagai mahasiswi semester 5, dan sebagai seorang wanita, tentu aku juga ingin seperti yang lain, tapi aku tak lagi ingin bermain2, aku lelah. Walau sampai sekarang Ipul masih memintaku untuk kembali, namun kini bukan karena alasan cinta lagi hingga aku bersikukuh tak lagi ingin kembali. pesan abah yang secara tak langsung diberikan untuk kedua putrinya ini membuatku semakin membuka mata. Aku memang tak pernah mengaji di pondok secara salaf, namun aku juga bukan seorang gadis yang dibiarkan tanpa pengetahuan agama, apalagi aku punya Abah dan paklek yang sangat faham dengan agama.Dan aku  tahu lelaki seperti apa yang emreka harapkan untuk menemani anak2nya.

Bagaimanapun orang tua pasti menginginkan hal yang terbaik bagi putrinya, dan begitupun Abah dan Ibu. Aku tak membutuhkan lelaki yang kaya harta, yang mampu memberiku uang banyak, mampu membuatku tercukupi dengan semua hartanya. Aku juga tak membutuhkan seorang lelaki yang hanya bermodal tampang, namun aku membutuhkan seorang lelaki yang mampu menjadi imam bagiku dan anak2 ku kelak, seseorang yang bisa membuatku nyaman dan aman berada di dekatnya, dan seseorang yang faham agama yang kelak kan mengantarkan aku untuk lebih mencintai-Nya.

the end

Older Posts »