Dua tahun tlah berlalu begitu cepat, selama itu pula aku saling “ta’aruf”, katamu. Mengenal satu sama lain dan aku semakin mantap dengan keputusan yang kuambil. Bahwa kau adalah calon imam bagiku dan bagi anak-anakku kelak. Kau memintaku menjadi wanita yang lembut seperti wanita solo, aku tak tahu kenapa kau meminta ku seperti itu, tapi aku senang, dan ku berusaha untuk itu. Sungguh aku ikhlas melakukannnya. Akar kepercayaanku semakin tumbuh dalam alam fikir dan jiwaku. Selama dua tahun kau t’lah membuktikan bahwa betapa beruntungnya aku yang kelak akan kau jadikan pendamping hidupmu. Kau melantari banyak perubahan padaku, menjadi semakin baik.
Namun, tiba-tiba semuanya hancur. Kau hancurkan rumah yang baru saja ku dirikan. Kau menghancurkannya dengan cintamu sendiri. kembali ku meneteskan airmata. Bahkan lebih deras ketika kembali mengingat luka yang kau siram air garam, pedih menyayat.
@@@
“mas Lukman, abah berniat menjodohkanku, dengan putra salah satu kyai kenalan beliau. Namun, abah bukanlah orang tua yang tak menghiraukan perasaan putrinya. Aku t’lah mengatakan bahwa ku tl’ah menjalin ikatan dengan seorang lelaki. Calon yang Hasna pilih sendiri, dan abah memberiku kesempatan”.
Bibirku mantap melantunkannya, aku tahu bahwa kau akan memperjuangkan untuk mendapatkan cinta seperti yang kita impikan. Allah mendengar dan mengabulkan do’a kita mas. Tapi engkau terdiam, terpekur menatap tanah yang menghitam, tak ada senyum di sudut bibirmu seperti yang ku harapkan.
” Mas Lukman, Abah minta minggu depan kau datang kerumah, dan menyatakan kesiapan untuk menikahiku. Bukankah itu yang sama-sama kita inginkan?nanti setelah itu tinggal mas bicara dengan orang tua mas di Riau”.
Semangatku menggebu. Ah…mas Lukman, do’a kita di kabulkan. Allah amat sayang dengan kita. Jeritku bahagia dalam hati.
” Dik Hasna, sebelumnya aku minta maaf, bukannya aku tidak menginginkan dik Hasna menjadi istriku, aku sangat menginginkannya. Aku sangat mencintaimu, tapi sebelumnya ada sesuatu yang harus aku katakan”. Katamu datar. Aku tak menyahut, hanya anggukan pelan sebagai simbol jawaban.
” Dik Hasna, ibu menginginkan aku kembali dengan memboyong seorang istri, dan ku tahu kau tak keberatan untuk itu, namun ada hal lain yang selama ini aku tak mampu untuk mengatakannya, dan kupilih untuk merahasiakannya, karena aku sangat mencintaimu. Selama ini aku t’lah banyak bicara pada ibu, namun………….”
“Namun apa mas? Mas masih ragu? bukankah mas yang selalu mengajarkan Hasna untuk yakin bahwa Allah pasti menagbulkan do’a kita? mas Lukman yang mengajarkan untuk menjaga cinta kita hingga indah pada waktunya, lantas apa lagi?” Kupotong ucapannya, Kembali wajahnya menunduk dan terpekur.
” Namun, ibu tak meridhoi bila istriku selain wanita solo, sedang kau…..Dik hasna, jangan salah paham, aku sudah mencoba menjelaskan bahwa kau pun melebihi wanita solo, namun ibu tak mengerti. Dik hasna, pulanglah…tapi tidak denganku. Temui lelaki yang dijodohkan Abahmu”
Halilintar itu menyambarku, mematikan sel-sel otakku dan juga mematikan rasaku. Hingga aku tak mampu berlari untuk menumpahkan kepedihanku. Hanya menjadi patung yang menghitam tersambar petir. Buliran air bening itu meleleh perlahan dan semakin deras, tergugu oleh tangisku. lelaki yang ku banggakan tega menyakitiku, menyembunyikan syarat yang di inginkan ibunya. Menghancurkan hidup wanita yang katanya dicintai karena Allah.
Mas Lukman…aku tak lagi tahu bagaimana aku melukiskan kepedihan hati karena kanvas itu tak cukup mampu. Bagaimana aku bisa menuliskan luka hati yang hacur karena cintamu telah mematikan penaku. Dan kembali ku tergugu, mematung, menekuri bumi yang semakin basah.
@@@
Ku masih berdiri di depan jendela kamar, menghirup wangi desa di kaki gunung Merapi. Memandang embun yang masih melekat di ujung mawar yang hendak merekah. Mukena putih mengkilap masih membalut tubuhku, baru saja ke selesaikan aduanku. Kupandangi surat di atas meja yang semakin lusuh, tak lagi terlihat warnanya. Hari ini, hari yang akan menjadi sejarah dalam buku hidupku. Saat seharusnya kurasakan kebahagiaan yang tiada tara. Waktu dimana akan ku genapkan separuh agamaku dengan lelaki pilihan abah yang tak ku kenal.
Tak ingin ada lagi air mata yang tumpah, karena t’lah kutumpahkan dalam sajadah keMahaan-Nya malam tadi. Tak pantas aku kemabli mengingat lelaki itu. Lelaki yang berkata mencintaiku karena Allah dan kemudian menghancurkannya atas nama bakti pada Ibu.
Mas Lukman, sakit itu masih sungguh terasa hingga pagi ini aku kembali membaca suratmu. lelaki yang kubanggakan di depan abah ternyata t’lah menghancurkan sendiri relief kebanggan di otakku. Lelaki yang justru menyerahkanku pada lelaki yang tak pernah ku kenal. Cinta ini t’lah lebur dan beterbangan seperti abu yang terbawa angin. ” Nil itu t’lah membunuh mesirku sendiri”*
“Hasna, pagi ini kau akan menikah nak, apakah kau sudah ridho?” tiba-tiba abah mengagetkan lamunanku. Kuseka airmata yang masih tersiasa. Aku masih terdiam.
” Hasna, jika kau tidak ridho, tidak ikhlas, abah dan umi masih bisa membatalkannya, dan menyampaikannya pada dak Fahmi” Akupun masih diam. terpaku. Kudengar mereka berlalu.
” Abah, jangan!” Kubalikkan tubuhku, kutatap mata teduh lelaki yang t’lah mendidikku, lelaki yang tak pernah membuatku merasa sakit, dan wajah teduh wanita yang telah melahirkanku ke dunia.
” Abah, Hasna ikhlas” hanya itu yang mampu ku ucap. Aku sadar dengan ucapanku. Aku yakin bahwa abah dan umi akan memberikan yang terbaik bagi putrinya. Mereka lebih tau sifatku melebihi aku sendiri. Kulihat senyum menggantung di bibir mereka. Senyum kebahagiaan yang tulus mereka berikan untuk putri tercintanya.
Kupandangi mentari yang kain menjulang, menghapus embun di ujung mawar yang makin merkah. Semoga ikhlasku kan menghapus embun dihatiku.
Purworejo, 06 Syawal 1429 H
MERETAS IKHLAS III
October 22, 2008 by khariezma