Feeds:
Posts
Comments

how’s my life today

“sungguh harapan itu akan selalu ada ketika berusaha”

sebuah kekuatan yang tak mampu aku hindari, sebuah kekuatan yang hadir tanpa dikira. hanya itu, harapan yang selalu memotivasi untuk selalu memberikan yang terbaiksemua orang menyayangiku, mencintaiku, dan mengharapkan ku menjadi apa yang aku inginkan. selalu mendoakanku, jadi tak patut bagiku untuk mengecewakan mereka, semua orang yang sayang . bukan hanya idealisme semata ketika aku katakan hal ini, aku menyadari bahwa aku bukan siapa-siapa. namun aku tahu ketika mereka mengharapkan ku menjadi orang yang berarti. berawal dari harapan yang mereka lantuntan pada diriku, bertolak dari situlah kumulai mengerti mengapa sekarang ku ada dan berada disini

bukan hanya keinginan yang hadir karena kau telah banyak memotivasi orang lain, yang kadang tanpa sadar malah  justru aku yang rapuh. aku yang selalu pandai menutup apa yang terjadi padaku, aku yang selau mengatakan”aku baik-baik saja”. ehmmmmmmmmmm sekarang bisakah ku katakan diriku seorang munafik??? bila apa yang ku kata tak sesuai apa yang dirasa, membaca karya agus mustofa, yang mengupas bagaimana sesungguhnya munafik. tanpa disinggungpun akau telah emrasa. dan aku tak ingin selamanya menjadi penyenang bagi orang lain, tanpa care pada diriku sendiri. how about yor day??? yach, kata itu, kenapa tak ku tanya pada diriku sendiri, hei rizma…..how’s your life today???

riezma be the best and give the best, care with yourself!!!!

Advertisements

SESCO’S FRIENDS

ikip-uns-iain1

porjos-friends1

rizma

Hakekat Sebuah Cinta

Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo’akannya
walaupun dia tidak berada disisi kita.Tuhan memberikan kita dua kaki
untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar
dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan
sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi
hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta …

Jangan
sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba..
Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan
sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak
dapat melupakannya. Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai
harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih
percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih
ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada
mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan
kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia
meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata
cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang
tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya. Mungkin Tuhan
menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum
bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana
berterimakasih atas karunia tersebut.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh
menjadi bening, sakit menjadi sembuh,  penjara menjadi telaga, derita
menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat. Sungguh menyakitkan
mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan
adalah  mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian
untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis,
ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu
mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri
mawar itu menusuk jari. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika
kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk
menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus
membiarkannya pergi.

Kadangkala
kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga
kamu kehilangannya.  Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena
perginya tanpa berkata lagi. Cintailah seseorang itu atas dasar siapa
dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya.  Kisah silam tidak perlu
diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat
menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila,
orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu
disambut oleh para pecinta PALSU. Kemungkinan apa yang kamu sayangi
atau cintai tersimpan keburukan didalamnya dan kemungkinan  apa yang
kamu benci tersimpan kebaikan didalamnya.

Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya
alam, cinta kepada diri artinya bijaksana,  cinta kepada mati artinya
hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa. Lemparkan seorang yang
bahagia dalam bercinta kedalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan.
Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti,
pasti ia akan mati kelaparan.

Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam,
tetapi tidak mempunyai  perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah
seperti gong yang bergaung atau sekedar canang yang gemericing. Cinta
adalah keabadian .. dan kenangan adalah hal terindah yang pernah
dimiliki. Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun pandai
menilai cinta karena cinta bukanlah suatu  objek yang bisa dilihat oleh
kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan
perasaan.

Cinta
mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan
meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. 
Inilah dahsyatnya cinta. Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang
kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi 
gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan
diri sendiri yang kamu temukan didalam dirinya.

Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. Namun
apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan
biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda Tanya dihatinya. Cinta
bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi
cinta adalah  anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat
menilai kesuciannya. Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang
mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang
sukar diperoleh. Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan,
lebih baik cinta itu tak pernah hadir.

MERETAS IKHLAS III

Dua tahun tlah berlalu begitu cepat, selama itu pula aku saling “ta’aruf”, katamu. Mengenal satu sama lain dan aku semakin mantap dengan keputusan yang kuambil. Bahwa kau adalah calon imam bagiku dan bagi anak-anakku kelak. Kau memintaku menjadi wanita yang lembut seperti wanita solo, aku tak tahu kenapa kau meminta ku seperti itu, tapi aku senang, dan ku berusaha untuk itu. Sungguh aku ikhlas melakukannnya. Akar kepercayaanku semakin tumbuh dalam alam fikir dan jiwaku. Selama dua tahun kau t’lah membuktikan bahwa betapa beruntungnya aku yang kelak akan kau jadikan pendamping hidupmu. Kau melantari banyak perubahan padaku, menjadi semakin baik.
Namun, tiba-tiba semuanya hancur. Kau hancurkan rumah yang baru saja ku dirikan. Kau menghancurkannya dengan cintamu sendiri. kembali ku meneteskan airmata. Bahkan lebih deras ketika kembali mengingat luka yang kau siram air garam, pedih menyayat.
@@@
“mas Lukman, abah berniat menjodohkanku, dengan putra salah satu kyai kenalan beliau. Namun, abah bukanlah orang tua yang tak menghiraukan perasaan putrinya. Aku t’lah mengatakan bahwa ku tl’ah menjalin ikatan dengan seorang lelaki. Calon yang Hasna pilih sendiri, dan abah memberiku kesempatan”.
Bibirku mantap melantunkannya, aku tahu bahwa kau akan memperjuangkan untuk mendapatkan cinta seperti yang kita impikan. Allah mendengar dan mengabulkan do’a kita mas. Tapi engkau terdiam, terpekur menatap tanah yang menghitam, tak ada senyum di sudut bibirmu seperti yang ku harapkan.
” Mas Lukman, Abah minta minggu depan kau datang kerumah, dan menyatakan kesiapan untuk menikahiku. Bukankah itu yang sama-sama kita inginkan?nanti setelah itu tinggal mas bicara dengan orang tua mas di Riau”.
Semangatku menggebu. Ah…mas Lukman, do’a kita di kabulkan. Allah amat sayang dengan kita. Jeritku bahagia dalam hati.
” Dik Hasna, sebelumnya aku minta maaf, bukannya aku tidak menginginkan dik Hasna menjadi istriku, aku sangat menginginkannya. Aku sangat mencintaimu, tapi sebelumnya ada sesuatu yang harus aku katakan”. Katamu datar. Aku tak menyahut, hanya anggukan pelan sebagai simbol jawaban.
” Dik Hasna, ibu menginginkan aku kembali dengan memboyong seorang istri, dan ku tahu kau tak keberatan untuk itu, namun ada hal lain yang selama ini aku tak mampu untuk mengatakannya, dan kupilih untuk merahasiakannya, karena aku sangat mencintaimu. Selama ini aku t’lah banyak bicara pada ibu, namun………….”
“Namun apa mas? Mas masih ragu? bukankah mas yang selalu mengajarkan Hasna untuk yakin bahwa Allah pasti menagbulkan do’a kita? mas Lukman yang mengajarkan untuk menjaga cinta kita hingga indah pada waktunya, lantas apa lagi?” Kupotong ucapannya, Kembali wajahnya menunduk dan terpekur.
” Namun, ibu tak meridhoi bila istriku selain wanita solo, sedang kau…..Dik hasna, jangan salah paham, aku sudah mencoba menjelaskan bahwa kau pun melebihi wanita solo, namun ibu tak mengerti. Dik hasna, pulanglah…tapi tidak denganku. Temui lelaki yang dijodohkan Abahmu”
Halilintar itu menyambarku, mematikan sel-sel otakku dan juga mematikan rasaku. Hingga aku tak mampu berlari untuk menumpahkan kepedihanku. Hanya menjadi patung yang menghitam tersambar petir. Buliran air bening itu meleleh perlahan dan semakin deras, tergugu oleh tangisku. lelaki yang ku banggakan tega menyakitiku, menyembunyikan syarat yang di inginkan ibunya. Menghancurkan hidup wanita yang katanya dicintai karena Allah.
Mas Lukman…aku tak lagi tahu bagaimana aku melukiskan kepedihan hati karena kanvas itu tak cukup mampu. Bagaimana aku bisa menuliskan luka hati yang hacur karena cintamu telah mematikan penaku. Dan kembali ku tergugu, mematung, menekuri bumi yang semakin basah.
@@@
Ku masih berdiri di depan jendela kamar, menghirup wangi desa di kaki gunung Merapi. Memandang embun yang masih melekat di ujung mawar yang hendak merekah. Mukena putih mengkilap masih membalut tubuhku, baru saja ke selesaikan aduanku. Kupandangi surat di atas meja yang semakin lusuh, tak lagi terlihat warnanya. Hari ini, hari yang akan menjadi sejarah dalam buku hidupku. Saat seharusnya kurasakan kebahagiaan yang tiada tara. Waktu dimana akan ku genapkan separuh agamaku dengan lelaki pilihan abah yang tak ku kenal.
Tak ingin ada lagi air mata yang tumpah, karena t’lah kutumpahkan dalam sajadah keMahaan-Nya malam tadi. Tak pantas aku kemabli mengingat lelaki itu. Lelaki yang berkata mencintaiku karena Allah dan kemudian menghancurkannya atas nama bakti pada Ibu.
Mas Lukman, sakit itu masih sungguh terasa hingga pagi ini aku kembali membaca suratmu. lelaki yang kubanggakan di depan abah ternyata t’lah menghancurkan sendiri relief kebanggan di otakku. Lelaki yang justru menyerahkanku pada lelaki yang tak pernah ku kenal. Cinta ini t’lah lebur dan beterbangan seperti abu yang terbawa angin. ” Nil itu t’lah membunuh mesirku sendiri”*
“Hasna, pagi ini kau akan menikah nak, apakah kau sudah ridho?” tiba-tiba abah mengagetkan lamunanku. Kuseka airmata yang masih tersiasa. Aku masih terdiam.
” Hasna, jika kau tidak ridho, tidak ikhlas, abah dan umi masih bisa membatalkannya, dan menyampaikannya pada dak Fahmi” Akupun masih diam. terpaku. Kudengar mereka berlalu.
” Abah, jangan!” Kubalikkan tubuhku, kutatap mata teduh lelaki yang t’lah mendidikku, lelaki yang tak pernah membuatku merasa sakit, dan wajah teduh wanita yang telah melahirkanku ke dunia.
” Abah, Hasna ikhlas” hanya itu yang mampu ku ucap. Aku sadar dengan ucapanku. Aku yakin bahwa abah dan umi akan memberikan yang terbaik bagi putrinya. Mereka lebih tau sifatku melebihi aku sendiri. Kulihat senyum menggantung di bibir mereka. Senyum kebahagiaan yang tulus mereka berikan untuk putri tercintanya.
Kupandangi mentari yang kain menjulang, menghapus embun di ujung mawar yang makin merkah. Semoga ikhlasku kan menghapus embun dihatiku.
Purworejo, 06 Syawal 1429 H

MERETAS IKHLAS II

“Dik, aku telah menyatakannya, semua terserah padamu, aku tak berhak untuk memaksamu, karena perasaan takkan pernah bisa dipaksakan”
Aku masih terdiam,seakan-akan apa yang kau katakan hanyalah sebuah nyanyian sebelum tidur bagi berusia setahun. Fikiranku melayang, tak tahu dan tak mengerti apa yang harus aku lakukan.
“Akan ku pikirkan, seminggu lagi aku akan menjawabnya, dan semoga itu yang terbaik, terimakasih, assalamu’alaikum”.
Dengan suara bergetar kucoba lantunkan sebuah penutup,. Tak ingin kuberlama-lama dalam suasana yang membuatku tak tenang. Selaksa seorang terdakwa, aku hanya mampu berdiam diri. Kuputuskan untuk pergi meninggalakn dia sendiri bermain dengan alam fikirannya di senja yang makin temaram.
@@@
Mas Lukman, sosok lelaki berumur 24 tahun, perantauan dari pulau seberang sejak lulus SD, sambil nyantri di sebuah pondok pesantren. Lulusan universitas islam terkemuka,dan kini sebagai salah satu dosen di almamaternya. Tak begitu jelas kuingat dimana pertama kali ku bertemu dengannya, sehingga mampu membuat dia menyatakan rasa cintanya. Sedang aku, Hasna Farida,wanita berusia 20 tahun yang biasa-biasa saja, tak makan bangku kuliah dan hanya sempat nyantri pondok yang mengantarkanku sebagai seorang kativis LSM yayasan pondok. Lantas bagaimana mungkin mas Lukman denagn seperangkat kesempurnaanya mencintai dan menawarkan sebuah komitmen padaku?. Aku tak lagi ingin hubungan yang tak jelas, yang hanya kesana kemari grubyag-grubyug tak tahu juntrungannya. Sedang dia juga meng-aminkannya, apakah itu artinya dia akan membawa hubungan ini kearah yang memang di izinkan Allah??? tanda tanya terus bergelayut di ruang hatiku.
Mataku masih belum mampu terpejam, menatap langit-langit kamar yang di hiasi dengan klamat. Sepasang cicak berhadap-hadapan,dan mungkin saja sedang bermesraan. andai aku mempunyai sedikit kekuatan selayaknya nabi Sulaiman tentu aku kan tahu pa yang sedang mereka rasakan. Namun itu hanya sebatas andai.
Malam telah larut, namun mataku tak jua terlelap. Rasa kantuk tak jua menghampiri, meski lelah telah membelenggu. Mas Lukman, serasa langit dan bumi antara aku dan dirimu. kau lelaki sempurna, calon imam yang diidamkan setiap wanita. Tapi aku?apa yang bisa dibanggakan dari seorang Hasna?selain wanita jawa yang nyantri di pesantren selepas SD?
” Ketegaranmu dik Hasna yang membuatku jatuh cinta padamu”
” Ketegaran? tegar seperti apa, aku tak mengerti”
” Kau begitu tegar dengan segalanya, penyakitmu, kondisi keluargamu, Aku tahu yang terjadi padamu, penyakit yang mungkin saja bisa merenggut nyawamu lebih cepat, tapi kamu tidak mengeluh, bahkan seakan-akan malah semakin bersahabat dengan syaraf otakmu yang sejak kecil kau rasakan. Aku tahu dik, walau kau selalu berusaha keras menyembunyikan dari semua orang yang akhirnya mereka tahu juga.”
Mataku terbelalak, tak percaya, kau tahu dengan begitu detail apa yang terjadi padaku.
“Jadi mas mencintaiku karena mas kasihan dengan apa yang kurasakan? pergilah mas, tinggalkan aku sendiri”.
Ingin keberlari, menjauh kemudian menghilang. Aku bukan wanita yang meminta belas kasihan untuk dicintai, tidak juga olehmu mas Lukman. Namun, ternyata kutak berdaya, hanya terpekur di kursi usang di sebuah ruang kantor.
Ah…….ingatanku tak kan mungkin lupa pada semua itu. Engkau yang meminta dengan sangat agar ku mendengarkan penjelasanmu. Kemudian aku menurutinya. Kau akui bahwa berawal dari sebuah kekaguman dan akhirnya mencintaiku. Jam beker mungil di atas meja berdering,kulirik, berlalu dari angka dua. Aku beranjak. Inginku benamkan wajah dan jiwaku pada hamparan kasihNya. Gusti, ingin Kau memelukku dan menuntunku jalan manakah yang harus aku tempuh. Menerima dai atau membiarkan saja semua ini berlalu dengan mengacuhkan getaran di hatiku???
@@@
“Dik Hasna, hari ini adalah hari ke tujuh seperti yang kau janjikan, kau tidak lupa kan?”. Kembali kurasa tatapan matanya yang teduh, hangat dan bersahaja, walau hanya rasaku yang berbicara tanpa mampu melihat nyata apa kau menatapku atau tidak.mas Lukman, aku tak lupa, hanya saja aku belum mapu bertutur.
” Bagaimana hasil istikharahmu”. kau bertanya, aku masih terdiam, namun sebuah semangat tiba-tiba hadir, aku harus mengatakannya, harus.
” Mas Lukman, telah kuserahkan sepenuhnya pada Diqa, dan semoga isyarat yang kuperoleh benar-benar isyarat dariNya”. Aku terdiam, menghirup udara yang tiba-tiba terasa sebagai karbon dioksid, menyesakkan.
“Aku menerimamu, bukan sebagai seorang lelaki yang hanya mencintaiku, tapi aku ingin menerimamu sebagai lelaki yang menjadi imam bagiku dan bagi anak-anakku”. Denagn bergetar kemelafalkannya. Ada senyum yang mengembang di sudut bibirmu.
@@@